-Time so Flies-

Waktu terus berputar, seiring dengan usiaku yang semakin menua.

Yang dulunya bahkan tak pernah berpikir soal masa depan, tiba-tiba sudah memasuki usia 20-an. Sungguh tak disangka, masa dimana banyak orang terjebak pada kekalutan nan kebingungan ini aku jejaki.

Bingung soal pendidikan, karir kedepan, menikah, atau memutuskan untuk mengabaikan semuanya.

Waktu terus saja berputar makin cepat, setara dengan informasi yang lambat laun seperti badai. Mudah didapat dimanapun, tapi sulit memilah mana yang benar mana yang hanya cari sensasi juga ketenaran.

Di tengah perjalananku, aku tentu harus tau kemana aku menuju. Agar tidak tersesat juga tak mudah malas-malasan.

Hei, ternyata tak mudah ya terus menjadi sosok yang berniat bersih. Ada saja cobaannya. Kadang bisa teralihkan, atau bahkan terjebak dalam racun rutinitas.

Dulu tak pernah terpikirkan akan merasakan hiruk-pikuk jalanan mengais nafkah diri, sekaranh harus berjibaku dengan itu semua.

Yang dulu ngambek karena PR banyak, sekarang gusar kalau-kalau tiada uang sepeser pun di dompet.

Waktu memang berputar, namun apakah diri juga sudah berubah?

Atau tetap sama saja, hanya sosok yang ikut arus tanpa tau tujuan?

Kalau kita seorang muslim, tentu sangat disayangkan kalau hidup kita memiliki gambaran seperti itu.

Kita selalu diberi contoh bagaimana menyusun visi jangka panjang layaknya Rasulullah SAW.

Kita juga diajari bahwa segala kesulitan harus berbanding lurus dengan keyakinan akan adanya jalan keluar.

Kita juga tak dibiarkan untuk bermanja-manja pada mood kita yang sejatinya mudah digoda.

Kita haruslah bisa menyusul segera ketertinggalan kita. Bersama dengan waktu yang semakin cepat bagai stopwatch.

Karena waktu, amat berharga.

Ketika Lemah..

Nggak mudah memang menjalani hari-hari dengan selalu mengedepankan senyum.

Dalam satu waktu, kadang ada saja cobaan yang kita nggak ngira bakal terjadi ke kita.

Dan akhirnya sudah bisa dipastikan, bikin kita mulai lesu dan nggak semangat seperti biasanya.

Bukan hal aneh jika kau merasakannya. Mungkin kau butuh menepi sejenak. Merelaksasikan diri yang bisa jadi terlampau keras bekerja menjalani rutinitas tanpa henti.

Coba sedikit merenung, boleh jadi dirimu butuh asupan semangat yang disugesti sendiri.

Bicaralah dengan diri sendiri. Tak apa, itu normal.

Dirimu juga butuh dihargai, tak hanya orang lain. Maka salah satu caranya adalah biarkan dirimu menyendiri beberapa waktu. Ajak bicara, tanyakan apakah semuanya sudah dilakukan dengan ikhlas.

Sama sepertiku hari ini. Tak mudah menjalani hari-hari menghadapi seorang anak yang seringkali tidak fokus memperhatikan kita.

Ya, dia anak-anak. Kita pernah jadi anak-anak. Maka saat mencapai titik klimaks ujung-ujungnya aku hanya bisa diam. Lesu. Tapi juga tak mau melontarkan amarah.

Kadang hal sederhana bisa jadi pelik saat kita dikerubuti rasa lemah. Mulai tak bergairah.

Coba kita kembali lagi. Sebut nama Allah dalam hati. Terus-menerus. Tenangkan diri, minta bantuan-Nya.

Karena seringkali syaithan mencuri kesempatan saat kita lemah. Maka memohon lindungan-Nya adalah keharusan.

Teruntuk kamu yang sedang merasakan hal yang sama, yuk kita sama-sama semangati diri sendiri. Tetap minta pada Allah agar kita kembali kuat menjalani detik hidup iji yang penuh kejutan.

Tetap bangun kesabaranmu sekuat baja, agar ia tetap membuatmu tenang bahkan saat terendah sekalipun.

Don’t Worry..

Tidak apa-apa, jikalau impianmu hari ini masih terbentur oleh kenyataan yang kadang tak berpihak padamu

Tidak apa-apa, jikalau kehadiranmu tak dianggap. Bahkan disebut namamu pun dahi mereka mengernyit tanda tak tahu

Tidak apa-apa, saat doamu mungkin belum terjawab. Atau malah dijawab dengan cobaan bertubi-tubi seakan tak mau pergi

Tidak apa-apa, jika dalam perjalananmu mengenal Allah justru cacian dan olok-olok menghiasi derap langkahmu

Tidak apa-apa, jika saat kau sedang dilanda sakit hati justru dianggap remeh oleh kawan sepermainanmu. Menggodamu dengan sebutan cemen dan cengeng, padahal memang benar kau sedang berada di ambang terpuruk. Ingin mati. Lelah hidup.

Tidak apa-apa, kalau kamu sedikit pernah terselip rasa ragu atau bahkan khawatir akan masa depan. Sesuatu yang rahasia kadang membuat kita mendadak jadi penebak ulung, bukan?

Tapi, kau selalu punya pilihan. Pilihan untuk tetap kuat melangkah di atas prinsip indahmu. Apa itu?

Prinsip untuk tetap percaya seutuhnya pada Allah apapun kondisimu. Sesakit apapun jiwamu. Selemah apapun ragamu. Tetap ikut apa ingin-Nya.

Tetap yakin akan ada cahaya hidayah yang menghiasi hatimu pun pikiranmu untuk tetap bersua pada kebenaran. Untuk tetap memilih membalasnya dengan perbuatan baik setulus hati.

Tentunya, untuk tetap tersenyum menatap hari.

Don’t worry. Believe you can pass it.

Dirundung Tenang

Percaya atau tidak; saat ketenangan menjadi hal nomer satu yang kamu cari, maka akan kamu temukan keajaiban dalam perjalanannya, begitu pula jika kamu kelak merasakannya.

Ketenangan sejati yang seperti apa yang seharusnya dicari?

Tenang karena takut Tuhan. Tenang karena mencoba ikut mau Tuhan. Tuhan yang sejatinya telah mengatur segala urusan manusia mulai dari bangun hingga tidurnya, pun makhluk hidup lainnya.

Cobalah sesekali buka al-Qur’an, perhatikan ayat demi ayatnya. Kemudian terjemahnya. Kemudian tafsirnya. Selami baik-baik. Atau mendengar bacaannya yang kini dikemas dalam banyak media.

Tunggu selama beberapa menit saja, akan terasa sensasi yang tak bisa dijelaskan dengan kata, diungkapkan dengan rasa.

Ketenangan apalagi yang harus dikejar, jikalau Tuhan telah menjadi satu-satunya tujuan?

Jadikan Tuhan nomer satu; maka akan kau dapatkan hal itu. Kontan. Ikuti segala perintahnya, jauhi apa-apa yang Ia larang.

Soal tau atau tidak maksud di balik perintah dan larangan-Nya, tak perlu dipermasalahkan. Bukankah kau cinta? Bukankah kau harapkan ketenangan hanya dari-Nya? Ikuti tanpa banyak basa-basi.

Maka kehidupan akan menjadi semakin bermakna untuk dijalani, setiap detik waktu akan menjadi momen berharga untuk menanam kebaikan, untuk kemudian menuainya kelak saat waktunya tiba.

One More Time..

Sekali lagi…

Mendoakanmu adalah tugasku, dan memastikanmu tetap baik-baik saja adalah harapku.

Sekali lagi..

Menunggumu dengan elegan, mengisinya dengan bulir kebermanfaatan, dan menjaganya dengan ketaatan.

Sekali lagi..

Memutuskan untuk mendoakanmu bukan hal mudah waktu itu. Toh bagiku kau hanya imaji yang kan termakan kenyataan.

Sekali lagi..

Aku tak memaksamu untuk tau. Cukuplah bulir doa dalam tiap sujudku yang senantiasa memelukmu dari jauh.

Sekali lagi..

Aku hanya tak mau terbuai halusinasiku akanmu. Masih ada tanah luas untuk kujejaki, tumpukan ilmu dalam lembaran buku untuk kuselami, juga sajadah yang selalu siap untukku bercengkrama setiap harinya.

Sekali lagi..

Ini bukan lagi soal rasa. Ini soal keterlibatan antara aku dengan Sang Penggenggam jiwa.

Sekali lagi..

Karena sebuah rasa tercipta untuk sebuah alasan, maka akan selalu kubuat alasan terbaik nan hebat untuk menjaganya.

Kadang minder meronggoti jiwaku, tapi juga tak mungkin diam saja.

Aku juga mungkin bukanlah sosok terbaik yang kau cari. Aku hanya mencoba memperbaiki. Menyusun perlahan, untuk kemudian menjadi lebih baik.

Sebuah rasa yang sama, belum tentu disatukan takdir.

Namun untuk sebuah visi yang sama, takdir musti mendukungnya. Cepat atau lambat.

Sekali lagi..

Aku kehilangan kata-kata setiapkali menjabarkan semua tentangmu.

Rasanya memang aku tak pantas membicarakannya hari ini.

Mungkin nanti untuk terhenti.

Atau esok untuk selamanya.

When the Failure Comes

Siapapun yang sedang gagal dalam banyak hal; tes masuk sekolah / kampus / instansi, lomba, dsb. Coba kita memandang jauh kebelakang.

Ingat-ingat lagi saat kau memutuskan mengambil keputusan tersebut. Apa niat awalnya dan untuk apa kau perjuangkan.

Memang tak mudah. Siapa yang tak terguncang hatinya saat tau dirinya gagal. Siapa yang siap jikalau kegagalan harus menjadi rem mimpi kita. Begitu pula aku.

Pastinya bawaannya frustasi aja diri ini. Nyalahin semuanya. Orang lain, lingkungan, bahkan diri sendiri. Sampai dirimu pun menjadi minder dan ciut menghadapi kenyataan.

Padahal di saat yang sama waktu juga terus berputar. Tak semua orang akan mengingat kegagalanmu lagi. Mereka sudah sibuk lagi dengan diri sendiri.

Ya, rasanya saat kita gagal dunia terasa tak berpihak pada kita. Dunia nggak adil. Tuhan nggak adil. Bahkan dunia ini pun nggak bisa membuatku sedikit merasa lebib baik.

Benar begitu?

Coba tarik nafas. Tenanglah. Berikan sugesti terbaik bagi dirimu. Yakinlah ini bagian dari hidup. Bukan akhir hidup. Ini hanya sebuah fase saja yang tiap orang akan merasakannya; hanya saja beda waktu dan peristiwa.

Percayalah, gagal bukan berarti akhir segalanya. Kita bahagia di atas standar bahagia kita sendiri, bukan orang lain.

Kita bahagia tersebab ikut mau Tuhan. Ikuti saja alur-Nya. Ikuti saja inginnya tanpa ragu dan banyak tanya.

Bahagia di atas perih itu hebat.

Artinya kamu makin kuat . Dan ini akan membuatmu selalu berharap hanya pada-Nya, yang nantinya akan membuatmu selalu siap apapun yang kan kau dapatkan nanti.

Believe that the failure is a part of your life, not the end of it.

Kelemahan Bukan Halangan

Silakan kita sebut kelemahan kita satu-persatu, rasanya mulut ini lancar sekali menyebutnya.

Saat mencoba menyebutkan kelebihan dan potensi kita, seringnya kita hanya bungkam. Merasa tak punya kelebihan.

Tapi tau tidak, sebenarnya kelemahan takkan jadi penghalang tersendiri buat kita. Asal bisa kita olah kelemahan itu sendiri menjadi sebuah kekuatan. Menjadi sebuah energi bagi kelebihan kita.

Tentu tak mungkin kelebihan tidak muncul bersama kekurangan. Sungguh telah tercipta dua hal ini agar saling bersisian. Saling seimbang antar keduanya.

Kekurangan itu sendiri takkan jadi masalah besar, asal bukan dipancing dengan membandingkan diri kita dengan orang lain.

Ada yang cemerlang di akademik, ada pula yang cerdas secara emosional.

Tapi kesemuanya tak lantas membuat kita jadi lesu, merasa tak bisa apa-apa. Jangan.

Kita semua tercipta bukan untuk saling dibandingkan, kita justru tercipta untuk saling melengkapi.

Adanya kurang selalu bersanding dengan tambah.

Begitu pula kita. Disitulah bukti bahwa kita semua bisa memaksimalkan apapun kelebihan kita tanpa harus berlama-lama terpaku pada kekurangan.

Boleh jadi hari ini ada yang gagal tes masuk jenjang pendidikan atau pekerjaan, gagal melamar kerja, gagal dalam banyak hal. Atau mungkin gagal dalam satu hal tapi tak hanya sekali. Beberapa kali dicoba hasilnya tetap sama.

Kalau begitu, jangan rutuki kekuranganmu. Kamu hanya butuh waktu untuk berkembang dan bersinar. Jangan salahkan kekuranganmu apalagi dirimu sendiri.

Kamu sudah tercipta sempurna. Sempurna untuk menerima ketidaksempurnaanmu.

Percayalah, kekurangan bukan hambatan. Bukan musibah. Bukan petaka.

Kamu hanya perlu mengolahnya menjadi mutiara. Merakitnya menjadi bangunan yang tinggi setara dengan luasnya hatimu menerima dirimu.

Salam.

Patience, the Special Medicine

‘Kesabaran menolong segala pekerjaan’ (anonim)

Percaya atau tidak, sabar sudah menjadi kata yang jamak kita dengar. Setiap ada orang yang lagi kena musibah, kita pasti nyaranin orang tsb untuk sabar.

Tapi tau nggak sih, sabar bukan hanya diam dan menunggu keajaiban. Sabar juga berarti proaktif dalam berusaha lalu menyerahkan segala hasilnya pada Allah.

Kesabaran inilah sifat yang menjadi mutiara dari para Rasul hingga ada klasifikasi ‘Ulul Azmi’.

Sabarlah yang membuat hati kita senantiasa kuat dan tidak pernah berharap kepada selain Allah. Tak pernah mengandalkan kekuatan diri sendiri, juga selalu siap akan keputusan-Nya tiap detik.

Sabar takkan membuat kita lemah dan kalah, justru ia akan membuat pelakunya menjadi pelita. Tidak lagi terhasut oleh emosi, juga terbuaikan nafsu duniawi.

Sabar ternyata bukan perkara sederhana, ya.

Malang, 06:28

About Wasting Time

Hayoo, siapa disini yang masih suka ngerjain sesuatu itu nanti-nanti? Cung..

Iya sih, banyak tugas numpuk. Belum lagi yang pegang amanah di organisasi / komunitasnya masing-masing. Atau kerjaan rumah bagi orangtua yang tidak menyewa ART. Udah pasti banyak kan tugas menanti untuk dikerjakan?

Tapi namanya kita sebagai manusia nih, pasti bakal ada aja seribu satu cara syaithan buat bikin kita nunda-nunda atau bisa dibilang ‘wasting time’.

Padahal, Islam sendiri udah ngajarin kita biar nggak asal gunain waktu kita. Biar dibilang waktu masih terus berjalan, tapi usia kita makin habis bukan?

Terlebih, waktu ini juga besok kita pertanggungjawabin lho di depan Allah. Nggak mungkin kita mau jawab, “ya Allah, waktuku kuhabisin buat bla..bla..bla.. (yang tidak bermanfaat).

Terlebih yang buang waktu dengan terlambat. Nah ayo.. ini juga kudu jadi perhatian kita semua.

Mungkin kita lihat ini hal biasa, padahal nggak biasa dan nggak boleh dibiasakan.

So, gimana caranya biar nggak ‘wasting time’?

Sederhana aja sebenarnya, asal kita enyahkan rasa malas dan buat to do list kegiatan kita setiap harinya. Kerjakan rutin untuk pemanasan selama 30 hari dan lihat hasilnyašŸ˜Š

Hal ini terjadi pada saya sendiri dan terasa sekali perbedaannya. Saat saya punya to do list yang saya susun malam harinya, esok harinya saya pasti lihat lagi apa saja yang bakal saya kerjakan hari itu.

Perlahan ketika saya kerjakan satu persatu, tanpa sadar saya telah mengerjakan semua yang ada di list dan nggak ada lagi ceritanya leha-leha padahal tugas masih ngemper belum diapa-apain, atau asyik nonton dan ngerumpi nggak jelas serasa nggak ada beban.

Tapi semuanya nggak bisa kita lakuin kecuali kita punya niat dan usaha yang keras biar habits baik ini bisa berjalan maksimal.

Kalau udah tau begini, yakin masih mau ‘wasting time’ lagi?

Masalah Bukan Halangan

‘Lihat itu! Ada batu besar disana!’

Mataku berbinar memandang batu besar di ujung sebuah sungai kecil. Wah, bisa buat duduk sejenak sambil ngangetin badan.

Sedangkan Riu sahabatku masih terdiam.

‘Kamu lagi gak selera, ya? Kok lesu?’

‘Eh iya nih, Lui. Nggak tau ya, rasanya penat aja mikir kerjaan di kantor. Mana orangnya susah dikasih tau. Kita ngomong pelan-pelan, nggak sadar. Kalo langsung ke intinya, dia marah. Nggak paham, ah.’, jawabnya dengan kepala tertunduk.

‘Ya udah, mending angetin dulu pikiranmu. Yuk ikut aku kesana.’

Memang akulah yang merencanakan perjalanan singkat ini. Sedikit menjejakkan kaki di sungai deket pinggiran desa. Terlebih karena Riu yang seringkali bercerita tentang gusarnya dia saat bekerja di kantor, masalah kecil yang jadi besar, belum lagi atasan yang suka ngasih ‘kejutan’ hingga Riu harus lembur sampe beberapa hari.

Sampailah kami di batu besar yang kami lihat tadi di kejauhan. Duduk sejenak, menatap langit dan aliran air yang jatuh dari tebing.

‘Coba kamu amati batu ini. Sebesar ini aja, kalo ketetesan air terus-menerus batunya bisa berlubang kan?’, jelas Lui lembut.

‘Iya. Terus apa hubungannya sama masalahku tadi?’, tanyanya lagi.

‘Jelas ada hubungannya dong, Riu. Kamu bisa bayangin, yang sekeras itu aja bisa berlubang, apalagi hati orang yang kamu ceritain tadi. Atau, masalah di kantor. Mereka bisa melunak, masalahmu bisa diselesaikan.

Nggak mungkin nggak ada jalan keluar, Allah mesti udah siapin kunci jawaban di balik soal.

Tinggal kita yang kudu cari apa jawabannya. Nah ya itu, minta ke Allah. Minta ampun, terus mohon petunjuk. Biar kamu tetep bisa ngadepin semuanya dengan kepala dingin, nggak perlu sampe nunjukkin muka masem bin kecut gitu.

Nggak semua orang bisa ngerti kita, kan? Tapi kita selalu punya pilihan buat ngertiin semua orang’, pungkas Lui sambil berbaring di atas batu.

Perlahan Riu tersenyum. ‘Bener juga, ya. Betapa aku terlalu merasa menderita, padahal masih ada kekuatan terbesar yang harusnya aku minta.’, gumamnya

Karena setiap pertanyaan pasti ada jawabannya, sudah tentu setiap ujian selalu ada akhirnya-

Create your website at WordPress.com
Get started